Home » Kolom Epilude » LEBARAN & PEMIMPIN

LEBARAN & PEMIMPIN

”Minal Aidin walfaizin,/maafkan lahir dan batin/Selamat para pemimpin,/rakyatnya makmur terjamin

Itu adalah sepenggal lirik lagu yang hampir selalu terdengar setiap Lebaran. Puitis, dengan rima yang bagus dan seragam aspek bunyinya. Isinya pun menyenangkan meski berkesan utopis. Ada banyak penyanyi yang telah mendendangkan perayaan Lebaran. Ada yang agak klasik macam ”Hari Lebaran” dendangan Didi dalam iringan Orkes Mus Mualim pada tahun 1960-an. Atau, ”Lebaran” yang dinyanyikan Oslan Hussein dalam iringan kelompok Wijaya Kusuma pada dekade setelahnya. Atau yang lebih belakangan muncul Tasya Kamila (penyanyi cilik yang sudah gede) lewat ”Idul Fitri” dalam album Ketupat Lebaran (2001).
Meski ada variasi lirik dalam ketiga lagu tersebut, satu bait itu selalu terselip di dalamnya. Saya pikir, itulah kemenarikan (juga nilai penting) bait tersebut untuk lagu bertema Lebaran. Ia menjadi semacam jargon yang telah melewati sejarah lirik lagu yang lumayan panjang. Ya, dilihat dari aspek kebahasaan, stilistikanya puitis dan merangsang indera pendengarnya. Mungkin ada keambiguan kalau kita berusaha menilik maknanya. Apakah dua baris terakhir yang berbunyi ”Selamat para pemimpin, rakyatnya makmur terjamin” itu sebuah ungkapan penghormatan kepada para pemimpin yang telah berhasil membawa rakyat mereka makmur terjamin? Ataukah itu sebuah terminologi kondisional (pengandaian) bahwa para pemimpin akan selamat kalau membuat rakyat mereka makmur terjamin?

Entahlah. Mungkin keduanya benar. Untuk lebih memahami maksud yang sebenarnya, baiknya bertanya pada pencipta lagu tempat penggalan lirik itu ada di dalamnya. Tapi siapa? Ninok Leksono dalam tulisannya di kompasiana.com yang mengungkap lagu-lagu zadul hanya memberi informasi bahwa penggalan lirik itu kali pertama muncul dalam lagu ”Hari Lebaran” yang dinyanyikan Didi, tapi tak disebut nama penciptanya.

***

TAPI kalau disigi dari aspek kontekstual kehidupan bernegara kita, saya sebenarnya sangat ingin memilih makna pertama. Indonesia adalah sebuah negeri yang gemah ripah loh jinawi pasir awukir gunung apunjung. Para pemimpinnya jujur, adil, dan tidak korup. Dan rakyatnya hidup sejahtera, makmur, terjamin. Pemimpin seperti itu tentu patut dipuja-puja dan diberi selamat. Oh, betapa enaknya hidup di negeri seperti itu.

Seperti kebanyakan orang, saya terbangun. Mungkin saya hanya bermimpi. Dan kalau tak selalu suka terbuai oleh impian manis tapi pahit dalam kenyataan, saya harus menilik makna kedua. Dua baris dalam bait lagu di atas hanyalah sebuah ungkapan pengandaian. Para pemimpin akan selamat kalau bisa membuat rakyat mereka terjamin. Jadi, kalau tidak bisa, ya tidak selamat.

Tapi, kenyataan kadang lebih banyak berbeda dari pengandaian. Bisa saja para pemimpinnya selamat meski tak becus atau korup sementara rakyat tetap tak terjamin, apalagi kok makmur. Lalu bagaimana kalau kita perlakukan dua baris dalam bait itu sebagai doa saja? Saya pikir itu lebih bagus. Doa yang diulang-ulang meski belum juga terkabul tentu saja lebih bagus ketimbang tidak menggaungkan doa sama sekali. Dan nanti, kalau pas Lebaran, kita kembali mendengar baris-baris itu, anggap saja sang penyanyi itu bukan sedang berdendang melainkan berdoa. Pasti afdol kalau kita menyimaknya sembari mengamininya. Dan kalau Lebaran di tahun berikutnya, rakyat belum juga makmur terjamin, dan kita merasa doa setahun belum juga terkabul, ya berdoa lagi saja. Gitu aja kok repot. Oya, pergi ke Gunung Kelud membawa ikan patin, penulis Epilude memohon maaf lahir batin….(*)

(Epilude, Suara Merdeka, 5 September 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: