Home » Kolom Epilude » ENDLESS LOVE

ENDLESS LOVE

KITA selalu terharu setiap kali mendengar, membaca, atau menonton kisah cinta abadi (endless love). Apalagi bila percintaan itu berakhir tragis, keterharuan itu memuncak, mungkin dengan tangis. Hingga kini, berapa sudah kita mendapati kisah serupa itu?
Di negeri Barat, lewat Shakespeare kita mengenal Romeo dan Juliet. Dari China, kita dapati Sampek-Engtay. Dari Tanah Arab, kita beroleh kisah klasik yang mengharu-biru macam Laila Majnun. Cinta Qais terhadap Laila tak kesampaian hingga si lelaki menjadi majnun alias gila. Beberapa karya seni sudah diciptakan untuk kisah kasih pedih itu. Di negeri kita, setidaknya lewat musik sudah beberapa penyanyi mendendangkannya lewat lagu ”Qais dan Laila”, mulai yang zadul macam Rahman M lewat Orkes Melayu Putra Buana, Mansyur S hingga Johny Iskandar.
Dari negeri sendiri, tak kurang-kurang kisah seperti itu. Ada Pranacitra-Rara Mendut di Jateng, Bangsacara-Ragapadmi di Madura. Dan menurut saya, kisah kasih pedih yang paling heroik adalah Mas Ramad Surawijaya-Sayu Wiwit dari Blambangan (Banyuwangi). Kenapa heroik? Seperti Pranacitra-Rara Mendut, cerita dari ujung timur Pulau Jawa itu bukan kisah fiksional melainkan kisah historis yang diakui kebenaran realitasnya.
Lewat novel sejarah Trilogi Bambangan (Tanah Semenanjung, Gema di Ufuk Timur, dan Banyuwangi) Putu Prabu Darana menceritakan bagaimana Sayu Wiwit menunggang kuda sambil memangku jasad suaminya Mas Ramad, sementara dengan satu tangan senjatanya kalap menikam-nikam serdadu Kompeni yang ada di dekatnya sebelum sebuah meriam melantakkan jasad suami-istri itu. Mereka mati, tapi cinta keduanya abadi dalam balutan kisah perjuangan melawan penjajahan. Itu tentu berbeda dengan kisah melodramatis Romeo dan Juliet yangmati karena bunuh diri meminum racun, bukan? Atau Qais dan Laila yang mati karena kemeranaan nasib.

***

YANG  jelas, semua kisah cinta abadi itu menggetarkan hati kita yang tak tercipta dari batu. Maka saat Luna Maya memberi ucapan selamat ulang tanggal kelahiran Ariel pada 16 September lalu, sembari mengungkapkan rasa cintanya kepada lelaki itu dengan sebutan ”my endless love” lewat akun Twitter-nya, banyak dari kita yang terharu.
”Happy bday nazril irham semua doa terbaikku untukmu… I love u my endless love :’). GBU my love:”. Dan, ”Kebahagiaan tertunda akan dibalas oleh Allah sayang, HBD my love… #hbdariel:”
Sebenarnya itu ucapan biasa pada pasangan yang tengah bersekasih. Tapi ini memang seperti hendak menyedot air mata karena sang kekasih sedang mendekam di penjara.
Kalau lihat komentar terhadap ucapan Luna yang kebanyakan mendukung dan memuji-muji ke-endlesslove-an itu, saya juga ikut terharu. Saya terharu karena saya sadar, kita ini orang-orang yang masih berhati bukan dari batu. Sebab, sebagian dari mereka barangkali dulunya adalah penghujat Luna dan Ariel yang dianggap tak bermoral karena video mesum mereka.
Lewat kolom ini pun, saya pernah menuliskan keyakinan bahwa suatu hari reaksi keras penuh sumpah serapah itu bakal sirna seiring waktu. Boleh saja itu karena kita ini mudah lupa karena media massa memang selalu memunculkan berita dan kisah baru yang selalu menelan yang lama. Tapi bagi saya, reaksi bagus terhadap ungkapan cinta Luna adalah bukti kita menyukai konsepsi cinta yang abadi. Saya yakin, kita semua menginginkan memiliki cinta abadi, sambil berharap tak berakhir tragis. Sialnya, dari kebanyakan kisah seperti itu, entahlah hampir semuanya memiliki akhiran yang menyedihkan.
Untungnya, kita juga punya kisah pembanding, entah itu Cinderella atau Si Putih Salju, atau Bawang Putih-Bawang Merah yang menderita pada awalnya tapi lalu bertemu dengan kekasih sejati yang cintanya abadi dalam ujud seorang pangeran. Dan pada setiap akhir dongeng selalu disematkan kalimat: ”Dan mereka hidup bahagia selamanya”.
Hmm, siapa yang tak menginginkan hidup bahagia bersama pasangan cinta sejatinya? Apalagi bila sang kekasih itu pangeran kaya dari Arab Saudi, atau si raja minyak Poltak, hehehe…. Sebab, meski gagal seperti Manohara Odelia Pinot, mantan istri seorang pangeran bisa beralih jadi artis, bukan?
Maka, bersyukurlah kalau kita merasa sudah beroleh cinta abadi. Anggaplah yang ada di sisi kita itu benar-benar cinta sejati kita yang abadi. Paling tidak, kita bakal dibebaskan dari ancaman majnun macam Qais dan tak perlu menyanyikan ”Kehilangan” dari Firman: ”Sejujurnya ku tak bisa/Hidup tanpa ada kamu, aku gila”…. Kalau sudah majnun, mungkin cuma dokter-dokter di RSJ yang mau menerima kita. Merana, kan? Hahaha…(*)

(Epilude, Suara Merdeka, 19 September 2010)


1 Comment

  1. very great post, i surely enjoy this fabulous web website, persist with it

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: