Home » Kolom Epilude » ALBUM SBY

ALBUM SBY

TAK bolehkah seorang presiden bernyanyi dan bikin album? Ipin bilang, ”Boleh, boleh, boleh. Boleh tak, kita orang nak ikut?”
Sebenarnya ini bukan kisah baru. Album Rinduku Padamu karya Presiden SBY yang dinyanyikan banyak penyanyi seperti Dharma Oratmangun, Dea Mirella, Ebiet G Ade, dan beberapa lainnya, diluncurkan tahun 2007. Setelah itu bahkan ada album Evolusi, dan album ketiga Ku Yakin sampai di Sana pada awal tahun ini.
Jadi, lumayan lama kita sudah terbiasa punya seorang presiden yang bernyanyi dan mencipta lagu. Ya, mirip-mirip Cekoslovakia (waktu belum menjadi Republik Ceko dan Slovakia) yang punya Vavlac Havel, presiden yang penyair dan novelis. Atau presiden yang mantan bintang Hollywood macam Ronald Reagan. Lalu kenapa kita mempertanyakan hal itu? Atau kalau SBY mau meniru Nagabonar, mungkin dia akan bilang, ”Awak yang punya album, kenapa kalian yang sibuk?”
Mungkin kita pantas ribut dan sibuk ketika mendengar ”Mentari Bersinar” karya SBY dalam album Rinduku Padamu diperdengarkan lewat sebuah orkestrasi pada upacara peringatan HUT ke-65 Kemerdekaan RI di Istana Negara, Selasa (17/8) lalu. Sebuah lagu bukan lagu kebangsaan dinyanyikan pada acara resmi kenegaraan?
Kritik pun berhamburan. Umumnya menolak kepantasan lagu pribadi yang belum dijadikan lagu kebangsaan itu diperdengarkan pada acara kenegaraan yang khidmat.  Meski bukan si Lebai Malang, SBY dianggap lebay. Kritik semakin deras ketika pada situs http://www.presidenri.go.id, ada laman yang mempromosikan album Rinduku Padamu: ”Dapatkan CD audionya di toko-toko CD audio terdekat di kota Anda.” Kecamannya bermuara pada komersialisasi urusan privat pada situs yang seharusnya untuk kepentingan publik. Kenapa baru muncul sekarang sementara info album itu sudah ada sejak 2007? Karena ”Mentari Bersinar” itu? Mungkin.
Untuk komersialisasi hal privat di ruang publik, saya juga tak sepakat. Tapi saya juga tak sepakat pada lontaran yang mempertanyakan SBY itu mau jadi presiden atau penyanyi. Seolah-olah, sebagai presiden, dia tak boleh mengekspresikan bakat dan minatnya yang dia akui sendiri telah tumbuh sejak dia masih remaja. Bahkan, berdasarkan pengakuannya, saat muda, SBY pernah berada dalam sebuah band.

***

YA, sebagai presiden, SBY juga manusia yang suka bernyanyi, mungkin berdansa, atau menulis novel, atau suka mancing. Kebetulan juga dia berbakat mencipta lagu, punya uang untuk mewujudkannya sebagai album, punya jaringan distribusi, wassalam. Kalau soal albumnya tak bakal menyaingi kelarisan Kangen Band, ST 12, atau Wali, itu perkara lain. Kalau soal suaranya pas-pasan sebagai penyanyi, kita pasti ingat Sinta-Jojo yang konon hanya bisa lip-sync saja sudah didukung untuk jadi penyanyi, bukan? Dan bukankah kita orang yang tak suka menghalangi kebebasan berekspresi seseorang? Siapa pun, bahkan kalau dia itu presiden atau gubernur (Ingat ”Tak Semua Laki-laki” Basofi Soedirman?).
Saya juga suka menyanyi. Tapi kalau bernyanyi, suara saya hanya bikin teman-teman gemas kepengin merebut mikrofon. Makanya, kalau ada yang mengajak berkaraoke, saya lebih suka mengatakan ”Maaf, tenggorokan saya lagi lumayan bermasalah.” Hehehe. Tapi dengan kualitas suara seperti itu, kalau punya uang dan syukur ada yang mau memproduseri, mungkin saya perlu mempertimbangkannya lagi. Punya album pastilah keren. Bisa populer dan kalau albumnya meledak, royaltinya pasti lumayan. Bisa saya hibahkan untuk membangun Rumah Aspirasi DPR, hahaha.
Jadi, sebenarnya saya senang punya presiden yang suka bernyanyi. Saya bahkan membayangkan SBY membentuk band, apa pun namanya. Dia jadi vokalis, dan semua menteri Kabinet Indonesia Bersatu II itu jadi para pemain musiknya. Saya membayangkan orang-orang berjubelan memenuhi venue tempat band SBY melakukan gig (maksudnya, berkonser). Histeria massa yang meneriakkan nama SBY terus terdengar bersipongan dengan geberan musik para pemain di panggung.
Kalau band itu main bagus, yakinlah, tak perlu berpromosi lewat situs publik, album-album rekamannya pasti dicari orang. SBY dan bandnya bakal jadi legenda dan diidolai oleh fans yang fanatik. Kalau pun harus melakukan tight money policy (kebijakan uang ketat), dengan jalan apa pun demi album sang presiden, para pengidola itu pasti mau keluar uang.
Tapi kalau mainnya amburadul, musiknya disharmonis dan hanya bikin pekak telinga, kalau tidak dapat lemparan botol minuman, itu sudah bagus. Yakin deh, mendapat lemparan botol saat manggung itu tidak keren sama sekali. Dan jelas itu kalah keren dari para penyanyi dangdut di acara pernikahan yang selalu riang dilempari sawer. Syer,syer… goyangnya, Mang! (*)

(Epilude, Suara Merdeka, 22 Agustus 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: