Home » Kolom Epilude » CIUMAN

CIUMAN

AGAKNYA kita memang tak punya tradisi menonton orang berciuman. Aktivitas yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ”saling melekatkan bibir atau hidung” itu benar-benar wilayah privat. Maksudnya, hanya boleh diketahui oleh pelakunya, bahkan ketika pasangan itu sudah terbuhulkan oleh ikatan pernikahan.

Mohon dicatat dulu, sekadar mengingatkan pada pelajaran Bahasa Indonesia, berciuman itu berbeda dengan ciuman. Yang pertama kata kerja resiproksal sehingga kedua subjeknya aktif, sementara yang kedua adalah nomina atau kata benda yang bermakna ”hasil dari aktivitas mencium” dan jelas hanya satu subjek yang aktif, sedangkan satunya pasif.

Catatan itu perlu saya ungkapkan untuk menjelaskan bahwa kita tak memiliki tradisi melihat atau menyaksikan orang berciuman. Bahkan, misalnya secara tak sengaja kita memergoki ayah dan ibu kita berciuman (bibir dengan bibir), baik si pemergok maupun si tepergok sama-sama merasa malu atau jengah. Kejengahan tak akan terjadi kalau kita hanya memergoki ayah atau ibu mencium kening, pipi, atau tangan pasangannya. Dan mungkin bisa lain ceritanya kalau ciuman itu pada bibir.

Kejengahan itu rupanya tak hanya berhenti dalam realitas faktual saja. Sebab, kita juga sering merasa jengah menyaksikannya dalam realitas fiksional, misalnya adegan dalam film. Dan kita pasti ingat bagaimana film Garin Nugroho yang tadinya berjudul Izinkan Aku Ingin Menciummu Sekali Saja berubah total baik judul maupun kisah dan settingnya.

Saat baru dibuat dan kita tahu bahwa film itu akan menceritakan keinginan seorang pemuda dari pesantren untuk mencium seorang gadis, ramai-ramai kita memprotesnya. Judul akhirnya Aku Ingin Menciummu Sekali Saja (2002) dengan setting dipindah ke Papua.

Film Buruan Cium Gue (2004) pun bernasib sama. Protes merebak, dan bahkan Aa Gym saat itu menafsirkannya sebagai ajakan berzina. Film itu direvisi total dan tajuknya menjadi Satu Kecupan.

***

JADI, melihat aksi berciuman dua orang yang sudah sah dalam buhul pernikahan saja kita tidak merasa leluasa dan bisa beraksi dengan heboh, lebih-lebih lagi pada dua orang yang belum sah seperti Krisdayanti (KD) dan Raul Lemos. Lebih khusus lagi, aksi kedua orang itu bukan di film atau sinetron, tapi dalam realitas faktual. Rabu (21/7/2010) lalu, di Excelsior Cafe, Jakarta, dua kali mereka berciuman dan reaksi penolakan kita begitu heboh. Pengiyaan atas ajakan ”Say No to Krisdayanti” di Facebook menjadi salah satu bukti. KD pun buru-buru minta maaf.

Buat saya, dua kali ciuman di Excelsior Cafe itu sama sekali tak heboh, setidaknya jauh dari kehebohan sebuah French kiss. Mereka berciuman tak sampai kebas, bahkan lebih mirip kecupan belaka. Tapi kalau salah seorang pelakunya sampai meminta maaf, terpaksa saya menganggapnya ada yang tak biasa. Lebih-lebih ketika beberapa LSM melaporkan adegan itu ke polisi. KD dan Raul disangkakan melanggar hukum. Orang pun kembali bicara soal moralitas. Atas nama makhluk moralitas, ramai-ramai kita menghujat aksi itu.

”Beberapa saat setelah video Ariel dengan Luna dan Cut Tari beredar, terjadi beberapa pemerkosaan sebagai efeknya. Itu karena mereka figur publik. Nah, KD juga figur publik, dan aksinya bisa menciptakan efek serupa.” Begitu salah satu alasan para penghujat dua kali ciuman KD-Raul.

Saya sendiri kadang tak bisa mencerna apa memang bisa sehebat itu efek sikap dan perbuatan seorang figur publik yang diidolai. Apa benar perkosaan itu dilakukan seseorang hanya karena melihat video ketiga selebritis itu? Entahlah, tapi kita tahu, dalam video itu tak ada adegan perkosaan.

Hmm, itu mungkin terlalu menyederhanakan hubungan sebab-akibat.Sebab, kalau Anda mengidolai mendiang Michael Jackson, saya tak yakin Anda akan melakukan operasi plastik untuk mengubah warna kulit Anda. Paling banter Anda membeli busana serupa milik Jacko dan belajar breakdance. Dan nanti kalau ada TV yang bikin acara kontes mirip bintang, Anda bisa ikut serta.

Ya, tapi kalau ikhwalnya sudah soal moralitas, saya seharusnya bersenang hati. Saya senang karena masyarakat kita ini (ternyata) penjunjung tinggi moralitas. Bukan orang-orang barbar atau jahiliyah. Betapa dahsyatnya sebuah ciuman yang bisa menggugah komitmen moral orang-orang. Lagi pula, kalau tak ikut-ikutan mengatakan bahwa yang dilakukan KD dan Raul itu tak bermoral, bisa-bisa saya dianggap orang yang tak punya komitmen moral. Wah, itu jelas bahaya kalau suatu hari ada orang yang berminat melamar saya untuk mencalonkan diri sebagai bupati atau walikota. Masak calon pemimpin tidak bermoral? Mungkin ada sih, tapi kalau gue kagak deh. Hehehe….(*)

epilude, Suara Merdeka, 25 Juli 2010


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: