Home » Kolom Epilude » PENGAKUAN

PENGAKUAN

”Ya. Perempuan di dalam video tersebut adalah saya,” ujar Cut Tari dalam isakan dan leleran air mata, Senin (12/7).

Meski sebagian dari kita menyayangkan pengakuan agak terlambat itu, tak sedikit yang mengacungkan jempol. Lalu muncul pertanyaan, ”Kapan Ariel dan Luna melakukan hal yang sama?” Konon, keduanya masih kukuh untuk tak mengakui bahwa dua orang berlainan jenis dalam dua versi video adalah mereka.

Sebenarnya, sepenting apakah pengakuan mereka buat kita? Apakah setelah mereka mengaku lalu kita jadi pulas tidur dan efek video beserta kehebohan pemberitaannya yang telah sampai ke anak-anak belum akil baligh tak lagi berarti? Atau, jangan-jangan kita berkesan terlalu menuntut pengakuan karena mereka artis, bukan politikus korup atau mesum?

Kita ingat, saat beredar video mesum Yahya Zaini sang politikus dengan Maria Eva si penyanyi dangdut, tak ada tuntutan berlebihan agar mereka mengaku. Waduh, jangan-jangan politikus memang kalah pamor dari para artis.

Atau, jangan-jangan kita ini bagaikan ember kosong yang mandah saja diisi air ajaib infotainment, lalu dengan selelanya para pekerja infotainment itu menenteng-nenteng ember itu sesuka hati mereka. Saya tidak sedang ikut berdebat dalam tema ”apakah pekerja infotainment itu pekerja pers atau bukan”. Tapi dalam banyak hal kita menyerahkan diri untuk menerima apa pun kata mereka.

Misalnya, tadinya kita menganggap suatu hal itu sepele. Tapi begitu infotainment membuat fatwa itu bukan hal sepele dan bahkan luas biasa, kita pun serentak mengamininya. Sebut saja Krisdayanti a.k.a KD. Setelah jadi janda, dia sungguh berhak berpacaran dengan seorang lelaki. Siapa pun. Ini kan hal lumrah dan sangat manusiawi. Kalau Anda janda, Anda punya hak untuk menikah lagi, syaratnya ada yang mau. Tapi karena KD adalah artis top, bahkan seorang diva, infotainment merasa penting untuk mendesaknya membuat pengakuan lelaki mana yang sedang berpacaran dengannya. Ketika nama Raul Lemos disebutkan, sudah sama-sama kita tahu, kisah selanjutnya hampir serupa tayangan sinetron kita, lengkap dengan hujatan dan air mata.

***

KETIKA Sheila Marcia hamil sebelum menikah, infotainment dan juga kita yang terseret persuasinya, menuntut gadis itu membuat pengakuan siapa ayah bayinya. Kita mengambil peran orang tua atau kerabatnya dalam menuntut pengakuan. Padahal Maria Joseph, ibunda Sheila, tidak melakukan itu terhadap putrinya.

Bukan itu saja, lewat infotainment, kita ber-ghibah atau bahkan ”fitnah”. Saat Sheila tetap kukuh menyimpan nama ayah si bayi, dan dia punya hak untuk itu, dengan santai infotainment menyebut beberapa lelaki: Adi Nugroho, Ricky Harun, Roger Danuarta, Jupiter Fortisimo, Priya Kuburan, dan Delano Ezar. Lihat, tak ada nama Anji Drive di situ, lelaki yang lalu membuat pengakuan bahwa dia adalah ayah biologis Leticia, anak Sheila. Hmm, mungkin saja nama Anji baru sampai ke telinga pekerja infotainment saat mereka sudah kelelahan dan tertidur.

Nah, seperti sudah disebutkan, sepenting apakah pengakuan seorang artis buat kita? Ya, mungkin penting karena kita mengidolakan mereka. Ini juga berlaku untuk para pemain sepak bola yang memang telah bermetamorfosis menjadi selebritis. Diego Maradono kita ”paksa” mengakui bahwa golnya ke gawang Peter Shilton memang dengan tangannya. Juga Manuel Nauer dituntut mengakui bahwa bola tendangan Frank Lampard sudah melewati garis, atau Luis Suarez yang dituntut mengakui bahwa dirinya serupa blocker dalam bola voli saat bola sundulan pemain Ghana hendak masuk ke gawang timnya.

Yang kita tahu, ketika pengakuan yang kita tuntut itu datang, kenyataan tak berubah. Argentina menang lawan Inggris, Inggris tetap hanya menyarangkan satu gol ke gawang Jerman, dan karena kegagalan penalti Asamoah Gyan, sampai selesai extra time, Ghana-Uruguay tetap 1-1.

Jadi, jangan jadi idola kalau tidak mau memenuhi keinginan pengidolanya, termasuk untuk membuat pengakuan yang mungkin sangat privat buat kita. Tapi siapa yang tak ingin jadi idola yang dipuja-puja?

Nah, pembaca bijak bestari, dengan tulisan ini bagaimana kalau saya yang bukan selebritis membuat pengakuan? Begini: benarlah itu saya yang tidur dengan banyak orang. Ketika itu, hanya dua orang yang tidak ikut-ikutan. Yakni, Pak Sopir dan Pak Kondektur. Sebab, kalau keduanya ikut-ikutan, yakinlah tidur kami, para penumpang, tak akan nyaman. Hihihi…(*)

(epilude, Suara Merdeka, 18 Juli 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: