Home » Kolom Epilude » KESETIAAN

KESETIAAN

ANNA Marissa menggugat cerai Gugun Gondrong, dan kita mendesahkan keluhan. Kita mengeluhkan soal matinya sebuah kesetiaan. Dan setiap kali, orang menggaungkan konsepsi kesetiaan, khususnya kesetiaan istri pada sang suami, sebuah nama bersirobok dalam benak saya: Savitri.

Sepengetahuan saya, dalam kisah pewayangan, Savitrilah satu-satunya perempuan yang bisa memilih suami atas keinginannya sendiri. Ini catatan menarik karena dia berada dalam budaya yang didominasi oleh tradisi patariarki.

Savitri, putri Raja Aswapati itu jatuh hati pada Satyawan. Dan dia ingin menikah dengan lelaki itu. Ayahnya tentu saja berusaha mencegahnya karena dia memercayai sebuah nujuman bahwa Satyawan akan mati setahun setelah menikahi Savitri. Cinta Savitri tak goyah, bahkan oleh ancaman tragis itu. Mereka berdua pun menikah.

Dan nujuman itu terbukti. Setahun setelah perkawinan mereka, Satyawan mati. Episode selanjutnya adalah kisah kesetiaan Savitri sebagai seorang istri. Dia terus membuntuti Yamadipati, Dewa Maut, yang membawa jasad Satyawan. Ke ngarai, lembah, bukit terjal, padang sabana, ke mana saja. Yamadipati sampai jengah dan bilang, ”Savitri, tak ada gunanya kau ikuti aku terus.”

”Tidak, Sang Yama. Istri adalah ekor suami karena itu dia bakal terus mengikuti ke mana pun suaminya pergi,” jawab Savitri.

Boleh saja, terhadap jawaban Savitri itu, Anda membedahnya dalam perspektif lain, misalnya soal ketidaksetaraan antara suami dan istri, antara laki-laki dan perempuan. Suami selalu menjadi badan (kepala) sementara istri hanyalah ekor. Mungkin pula Anda memunculkan konsepsi Jawa swarga nunut, neraka katut yang barangkali dianggap sudah tak lagi patut diugemi.

Boleh saja begitu. Tapi saya menafsirkannya sebagai sebuah kesetiaan yang tak mati-mati meski yang disetiai telah mati. Dan dalam konsepsi Hindu, ada banyak hal seperti itu. Misalnya, tradisi Sati, tak harus kita maknai sebagai bunuh diri sia-sia dengan menceburkan tubuh ke api kremasi bagi janda yang ditinggal mati suaminya. Atau pilihan untuk ber-syawala brahmacarya bagi seorang lelaki yang menolak menikah lagi setelah kematian istrinya.

Nah, kisah Savitri itu panjang kalau diceritakan, termasuk terkabulnya tiga permohonan Savitri yang salah satunya adalah hidup kembalinya Satyawan. Tapi satu hal, bahkan Dewa Maut pun luluh oleh kesetiaan seorang istri seperti Savitri.

Kalau Savitri itu tokoh fiktif, bukannya dalam dunia faktual tak ada orang yang memiliki kualitas serupa. Saya mengenal seorang perempuan yang begitu setia merawat suaminya yang terserang stroke. Padahal saat bugar, dia tahu pasti, suaminya adalah playboy flamboyan yang punya banyak pacar. Pada saat semua pacarnya lari, istri setia itulah yang selalu ada di sampingnya.

***

BENAR, kita memang selalu terharu melihat atau mendengar kisah tentang kesetiaan. Dengan menitikkan air mata, kita menyimak kisah Romeo dan Juliet, atau yang lebih punya local colour, kisah Rara Mendut-Panacitra serta Bangsacara-Ragapadmi. Pada kisah-kisah itu, mungkin kita selalu mendesah, ”Kenapa kesetiaan harus bermuara pada ketragisan?”

Sebaliknya, kita selalu menolak, menyayangkan, atau bahkan menghujat, segala bentuk ketidaksetiaan suami atau istri. Bahkan, mungkin sebenarnya kita tak tahu persoalan sebenarnya yang membuat mereka saling tak bersetia. Dan itulah yang kita lakukan terhadap pasangan Anna Marissa dan Mohammad Gunawan a.k.a Gugun (yang tak lagi) Gondrong. Waktu melihat Anna begitu gemati merawat Gugun, kita mengacungkan jempol. Lalu ketika dia menggugat cerai sang suami, ramai-ramai kita bertanya, ”Sudah habiskah kesetiaanmu, Anna?”

Hmm, kalau rasa cinta dan kesabaran bisa habis, kenapa kesetiaan tidak? Tapi kita tak pernah tahu alasan sebenarnya, selain bahwa ”Mereka itu sudah tidak cocok bahkan sebelum Gugun sakit.” Itu kata kuasa hukum Anna. Kalau sudah menyangkut ketidakcocokan, masihkah kita harus mempertanyakan kesetiaan Anna?

Tentu saja, yang dituntut bersetia tak hanya perempuan. Lelaki juga. Tapi pada kasus Gugun, rasanya tak etis mempertanyakannya pada lelaki yang sedang sakit itu. Yang pasti, kita selalu suka menyimak kisah kesetiaan. Kita juga pasti orang yang sangat ingin berujar dengan mantap, ”Oh, aku ini tipe orang yang setia.” Yah, asal itu bukan kalimat menggantung yang kalau ditulis lengkap menjadi, ”Oh, aku ini tipe orang yang setia… pada A, B, C….” Wah, wah, kayak lagi belajar mengeja abjad saja…. (*)

(epilude, Suara Merdeka, 11 Juli 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: