Home » Kolom Epilude » Jacko

Jacko

”Fuad, kalau kita berbuat baik, kita masuk surga, kan?”
”Mungkin hanya ada sedikit hal setelah kematian, tapi setidaknya ada sesuatu.”
”Aku tetap bersyukur dilahirkan. Saat mati, aku akan ingat kehidupanku.”

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Itu kata pepatah. Michael Jackson (MJ) mati, selain meninggalkan misteri seputar kematiannya, dia juga meninggalkan royalti jutaan dolar untuk keluarganya.
25 Juni 2009, King of Pop itu meninggal. Setahun sudah jasadnya beku di dalam tanah. Tapi dia masih menjadi mesin uang, setidaknya bagi Joe dan Katherine Jackson. Berita hiburan ramai mengisahkan bagaimana kedua orang tua MJ itu mengantongi jutaan dolar dari album-album mendiang anaknya.
Dalam beberapa milis, muncul komentar beragam. Ada yang menganggap itu wajar. ”Mereka kan orang tuanya.” Tapi ada juga yang menganggapnya mereka tak pantas mendapatkan itu. ”Sungguh tak tahu malu, khususnya Joe.” Terhadap komentar terakhir, kita bisa memakluminya. Saat MJ hidup, Joe adalah ayah yang tak disukainya. Itu karena sikap abusif sang ayah saat legenda pop itu kanak-kanak.
Bukan soal kucuran dolar itu yang membuat saya teringat dialog antara Attilio De Geovanni (Roberto Benigni) dan Fuad (Jean Reno) dalam film La Tigre e La Neve seperti yang dikutip di atas. Pun bukan siapa yang berhak menerima rezeki post mortem (pascakematian) MJ itu melainkan pertanyaan yang menyentil saya. ”Apakah MJ bakal masuk surga?” Menurut saya, orang yang tetap bermanfaat bahkan setelah kematiannya adalah orang baik. Dan itu yang ditanyakan Attilio pada Fuad. Tapi soal surga dan neraka itu bukan wewenang manusia, bukan?
Baiklah, kalau begitu, seperti juga Attilio, apakah MJ bersyukur dilahirkan? Entahlah. Kalau tidak mensyukurinya, mengapa pada satu kesempatan, dia bilang, ”I want to live for ever.” Ya, mungkin dia mensyukuri kehidupannya. Tapi apakah dia berbahagia selama hidup?
Itu bukan pertanyaan yang gampang dijawab. Albert Camus yang dalam Le Myth de Sisyphe menulis, ”Il faut penser que Sisyphe soit heureux (Kita seyogianya membayangkan bahwa Sisifus itu berbahagia)”. Karena mencuri api dewa, Sisifus dihukum memanggul batu ke puncak bukit dan begitu sampai di atas, batu itu menggelinding kembali dan Sisifus mesti memanggulnya kembali, terus tanpa finalitas. Bagaimana bisa kita membayangkan Sisifus bahagia? Absurd, dan memang Camus tengah mendedah soal absurditas kehidupan.

***

YA, saya membayangkan MJ tak pernah bahagia. Agak mirip dengan Sisifus, sedari kecil Jacko seperti terus disuruh memanggul kehidupannya ke puncak popularitas, setidaknya oleh Joe, ayahnya. Ambisi sang ayah terhadap anak-anaknya, dan terutama terhadap dirinya, bahkan terwujud dalam cara-cara abusif, meninggalkan jejak psikologis yang buruk pada MJ.
Ambisi Joe memang tercapai. Tapi apakah MJ menikmatinya, menikmati popularitasnya? Bukan pertanyaan yang gampang dijawab pula. Tapi tak sekali pun kita melihat MJ tertawa, di panggung atau dalam sesi wawancara. Tawa memang bukan ukuran kebahagiaan seseorang. Sebab, orang bisa tertawa ketika hatinya merana. Sebaliknya, seseorang bisa terlihat sangat dingin dan kaku meski tengah berbahagia.
Benar, Manajer MJ, Frank DiLeo bercerita pada Hollywood Reporter dengan mengutip omongan sang bintang seusai latihan, sehari sebelum kematiannya, ”Frank, betapa bahagianya aku.” Tapi tetap tak cukup itu meyakinkan saya untuk membayangkan MJ bahagia dalam hidupnya. Buat saya, MJ adalah contoh tipikal anak yang tumbuh dalam bayang-bayang ambisi dan kekerasan sang ayah, dan karena itu dia (barangkali tak pernah) berbahagia. Dahsyatnya, untuk orang yang saya bayangkan seperti itu masih memberi rezeki yang tak sedikit untuk keluarganya, bahkan setelah dia mati.
Hmm, entah Joe atau Katherine menikmati apa yang telah dihasilkan Jacko dengan atau tanpa menyesali apa yang telah mereka lakukan terhadap anaknya saat hidup, ada satu hal yang pasti: mereka hidup di tempat yang begitu menghargai hak cipta. Bagaimana bila Jacko hidup di sini? Jangankan royalti post mortem, album yang belum diluncurkan saja bisa bocor dan gampang diunduh untuk diedarkan dalam bentuk bajakan, kok. Hehehe… (*)

(epilude, Suara Merdeka, 4 Juli 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: