Home » Kolom Epilude » RAJAM

RAJAM

ADA kelompok yang berpendapat, pelaku video porno patut dihukum rajam. Sebut saja MUI Bogor yang mengusulkan sanksi hukuman rajam dan cambuk sampai mati untuk para pelaku. Usul serupa dilancarkan Hitzbut Tahrir Indonesia Sumut dalam sebuah aksi pertengahan Juni lalu.

Membaca berita itu, saya teringat The Inquiry (2006). Film besutan Giulio Base ini memang mengisahkan pencarian kebenaran perihal kematian dan kebangkitan Yesus oleh Tito Valerio Tauro, utusan Kaisar Tiberius pada 33 M. Tapi ada satu adegan awal yang membuat saya tertempelak. Nathan, seorang pemuka Yahudi, menuduh istrinya telah berzina dengan salah seorang prajurit Roma di wilayah Yudea di Yerusalem. Si tertuduh mati dirajam.

Waduh, pasti sakit benar menemui ajal pelan-pelan lewat timpukan batu demi batu.

Bukan kekerasan massal yang dilegalkan hukum agama itu yang membuat dada saya sesak ketika menonton filmnya. Tapi teriakan histeris Tabitha, putri si wanita terajam itu. Tabitha pasti tahu mengenai hukum Yahudi yang merajam perempuan pezina. Hanya saja, setelah melihat ibunya dipermalukan dan ”dimatikan” di hadapan umum, apakah dia mampu menanggung kengerian traumatisnya?

Usulan kedua kelompok itu juga mengingatkan saya pada Alea dan Sidney. Ingatan apakah yang akan selalu menghantui Alea ketika tahu Ariel, ayahnya, mati dirajam? Pun Sidney, anak Cut Tari dengan Johannes Yusuf Subrata, trauma apa yang bakal dia tanggungkan ketika tahu ibunya mati mengenaskan dengan tubuh remuk oleh lemparan batu-batu?

Mungkin saya terlalu berlebihan membayangkan hal seperti itu. Apalagi, saya, juga ketiga artis itu, tidak hidup di Yerusalem pada zaman Pilatus. Saya, juga mereka, bukan warga negara Iran, Arab Saudi, Sudan, Nigeria, atau Somalia. Di sekitar, saya masih melihat gambar Garuda Pancasila dan bendera Merah Putih dikibarkan. Dan meski para penegak hukum di sini lagi banyak disorot karena kelancungan mereka dalam menjalankan tugas, saya tahu hukuman rajam untuk pezina tak ada aturannya dalam hukum kita.

***

SAAT Aceh mau menjalankan qanun jinayat (Perda mengenai Pidana Islam) yang di dalamnya ada pasal rajam, kontroversi pun muncul. Ada yang menerima, tapi tak sedikit yang menolak. Saya yang tak banyak tahu soal-soal begituan lebih suka mengikuti pendapat pakar hukum agama Prof Dr Rusydi Ali Muhammad yang bilang, penerapan hukum rajam itu tidak relevan lagi dengan perkembangan zaman. ”Pada zaman Rasulullah saja hukum rajam sangat sulit dilaksanakan, apalagi pada zaman sekarang,” ujarnya.

Benar, suatu hari Rasulullah didatangi seorang perempuan Ghamidiyah yang telah menikah dan mengaku telah berbuat zina. Dia ingin dihukum agar terbebas dari dosa zina. Rasulullah mengabaikannya. Baru pada saat kedatangan ketiga, Rasulullah memenuhinya. Itu pun ditunda dulu karena si perempuan hamil. Setelah melahirkan, si perempuan datang lagi untuk meminta dihukum, dan Rasulullah menunda kembali hingga dia membesarkan sang bayi dulu. Baru setelah si bayi besar, hukuman itu dilakukan.

Nah, betapa tak mudah melakukan perajaman, bahkan ketika hukum yang ditegakkan membolehkan itu.

Ya, kini Ariel sudah jadi tahanan untuk kasus video porno yang mengharu-biru kita beberapa pekan ini. Saya sangat yakin, kalau dia terbukti bersalah, seberat apa pun hukumannya, pasti bukan hukuman mati lewat lemparan batu-batu yang disaksikan banyak orang. Dan sangat mungkin di antara para penyaksi itu adalah anak-anak yang belum akil baligh. Kita sama-sama ingat, eksekusi hukuman mati terhadap Amrozi dkk saja dilakukan di suatu tempat yang tak diketahui umum di Nusa Kambangan.

Saya tahu, pengusul hukuman rajam pada pezina, in casu quo ketiga artis pelaku video porno, adalah orang-orang yang punya niat mulia. Mereka sumpek dengan ekses pornografi, karena itu perlu ada sesuatu yang berefek jera. Saya juga yakin, kita ini bukan masyarakat munafik seperti yang terjadi di Castelcuto, kota kecil Italia, pasca-pendudukan Nazi dalam film Malena. Meski bukan dirajam, Malena yang melacur pada serdadu Jerman karena kelaparan itu ”dipermak” hingga babak belur oleh puluhan wanita di hadapan kerumunan orang.

Apalagi, bila hukum rajam diberlakukan, jangan-jangan batu punya fungsi tambahan tak cuma untuk fondasi rumah dan gedung, tapi juga untuk menimpuki orang. Dan jangan-jangan pula beberapa tahun mendatang sensus mencatat penurunan signifikan jumlah penduduk. Hmm, ketimbang merajam orang, apa tak lebih ciamik kita makan trancam saja? Sudah sehat, kita dijauhi sembelit pula. Hahaha….(*)

(epilude, Suara Merdeka, 27 Juni 2010)


1 Comment

  1. Reny Indarti says:

    Trancamnya…..OK,rajamnyagak dlu kalee ya.Mulai dari diri kita dulu merajam keinginan atau angan2 yang mengotori murninya sanubari kita.Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: