Home » Kolom Epilude » KUSTA

KUSTA

TAK ada penyakit menular yang penderitanya begitu dijauhi dan bahkan diasingkan seperti kusta. Tak seperti sifilis atau tuberkulosis, pengidap kusta secara kasatmata bisa terlihat sangat mengerikan dan menyedihkan. Kalau kita buka Imamat dalam Perjanjian Lama penyakit itu digambarkan begitu membahayakan sehingga harus dikucilkan. Jangankan orangnya, dinding rumah yang terkena anggota tubuh pengidap kusta saja harus dibongkar, dan batu-batu bongkarannya harus dibuang jauh ke tempat khusus. Belum lagi kalau ternyata tanda penyakit itu ada pada seluruh rumah, maka harus dibongkarlah rumah itu.

Benar-benar bukan penyakit main-main. Apalagi, kusta sering diidentikkan sebagai simbol dosa, simbol penghukuman Tuhan atas dosa pengidapnya. Si pengidap adalah orang najis dan harus ditahirkan alias disucikan. Baca saja dalam Bilangan yang mengisahkan kemurkaan Tuhan terhadap Miryam dan Harun yang tak puas atas kepemimpinan Musa. Tuhan menghukum Miryam dengan penyakit kusta.

Ya, pengucilan penderita kusta tak hanya ada pada zaman Musa atau Yesus masih hidup. Sekarang pun masih. Padahal tak kurang-kurang anjuran agar mereka tak dijauhi.

Nah, Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari bukan penderita kusta. Mereka sehat, tampan, dan cantik. Sangat asyik dipandang, dan pasti pencipta fantasi. Sebelum muncul video yang (lagi-lagi) harus saya tulis ”mirip” mereka, siapa pun yang bersua dengan mereka selalu ingin menjabat tangan mereka, atau setidaknya berfoto bersama. Ini tak mungkin terjadi kalau mereka kena kusta.

Tapi video mesum itu membuat mereka serupa pengidap kusta. Mereka diemohi, dihujat, dan disulap jadi serupa kotoran yang najis. Mereka dicekal dan ditolak di banyak tempat. Seolah-olah mereka tak boleh lagi tinggal di sekitar kita. Seolah-olah mereka lebih baik menjadi Tarzan dan Jane, atau kalau ini adalah zaman setelah kematian Yesus, baiknya mereka pergi ke Gahana, ke lembah pengucilan yang disebut rumah setan.

Bukan cuma itu. Mereka bahkan disarankan melepas keartisan. Hmm, kalau tidak jadi artis, apa mereka kita suruh berjualan DVD bajakan di Glodok? Atau jadi pedagang kaki lima yang siap-siap didatangi Satpol PP?

Semua itu diserukan atas nama moralitas. Ketiga artis itu mendadak jadi penderita ”kusta moralitas”. Ya, moralitas kita yang menolak kemesuman dalam segala bentuknya. Dan kalau sudah bicara soal moral, banyak dari kita yang lantang menyerukannya meski mungkin itu cuma ujaran oral alias di mulut doang.

***

MORALITAS itu memang makhluk aneh yang kadangkala menyimpan kontradiksi. Amerika, Inggris, atau Jepang membolehkan industri film porno. Buktinya, tak semua pornstar di sana bisa menebah dada. Tak semua orang menatap para bintang porno itu penuh kekaguman, dan mungkin dengan mendegut ludah.

Lihat saja Maria Ozawa atau Miyabi yang pernah kita tolak datang ke sini. Begitu tahu dia main film porno, kedua orang tuanya bilang, ”Kau bukan anak kami lagi.” Bak pengidap kusta, Miyabi dijauhi teman-temannya yang bilang, ”Sungguh tak nyaman berteman dengan bintang film seks.”

Di Lanarkshire, Inggris, orang tua siswa St Mary’s Primary protes keras saat tahu salah seorang gurunya, Helen Starr nyambi jadi bintang porno. ”Aku tak mau anakku dididik seorang bintang porno,” ujar orang tua siswa. Starr dipecat!

Jadi untuk soal penolakan dan pengucilan itu, Ariel cs tak sendiri. Lagipula, konon kita ini orang-orang yang punya tabungan maaf dan lupa bejibun. Seiring waktu, kita mungkin akan memaafkan dan melupakan bahwa mereka bertiga pernah menderita ”kusta moralitas”. Lebih-lebih kalau ketiganya mencontoh Edison Chen. Bintang Hongkong itu dengan mantap mengakui bahwa foto-foto syur yang beredar itu memang dirinya.

Dan permaafan dan pelupaan seperti itu sudah teruji dalam tradisi kalangan pesohor kita. Suatu hari, ketiganya bolehlah mengabaikan omongan Nagabonar, ”Itulah kalau nama sudah rusak.” Sebab, bisa saja suatu hari salah seorang atau ketiganya mencalonkan diri sebagai bupati, walikota, gubernur, presiden, atau anggota DPR. Lalu, dalam satu kampanye mereka mendatangi RS Kusta, menjabat tangan atau merangkul penderitanya, kita pasti senang melihatnya. Kalau ada yang tak suka, paling-paling lawan mereka yang menjadikan keaiban masa lalu mereka sebagai kampanye hitam.

Apa pun hasilnya, kita tak pernah punya hak menghalangi seseorang melakukan pertobatan, apalagi kalau itu tobat nasukha dan bukan tobat sambal. Pedas di mulut tapi tangan trengginas meraup isi cobek. Hehehe….(*)

(epilude, Suara Merdeka, 20 Juni 2010)


1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: