Home » Kolom Epilude » VIDEOMESUMFLUENZA

VIDEOMESUMFLUENZA

TOLONG abaikan sejenak judul di atas. Mari kita memfokuskan dulu pada cerita pekan lalu (mungkin sampai hari ini) tentang tiga nama ini: Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Bayangkan saja, isi video yang selalu disebut ”mirip” mereka bertiga itu jadi serupa kuis trivia pemicu dan pemacu kepenasaran. Kehebohannya bahkan seperti mengalahkan peristiwa menjelang Piala Dunia di Afrika Selatan.

Belum lagi saat beredar isu bahwa masih ada puluhan video serupa yang siap diunggah ke internet. Kepenasaran terhadap artis mana lagi yang bakal jadi ”pornstar” seolah-olah menenggelamkan prediksi calon Juara Dunia 2010.

Apakah kita memang suka menonton aib orang lain? Entahlah, saya bukan filsuf yang mampu menjawab pertanyaan filosofis seperti itu.

Yang jelas, setiap ada kehebohan seperti itu, saya selalu teringat dua hal, diiringi rasa cemas. Pertama, ingatan pada isi hard disk komputer dan kartu memori ponsel saya. Apakah pernah saya memotret atau membuat video bugil dan mesum? Segera saya bongkar-bongkar peranti itu. Ups, rupanya saya pernah memotret sepasang belalang kawin dan merekam video kuda bugil di Bromo yang tengah (maaf) pipis. Alhamdulillah, karena para pelakunya hewan, saya bebas dari ikhwal pornografi dan pornoaksi.

Satu kecemasan purna. Sebab, kalau toh kedua peranti itu dicuri atau hilang, paling-paling (kalau beruntung) karya saya itu masuk National Geographic Channel. Hehehe. Itu kalau si pencuri memang budiman. Sayangnya, setahu saya, tak banyak maling budiman selain Raden Said yang lalu menjadi Sunan Kalijaga, atau Robin Hood.

Jadi, tak ada kelirunya kita ikuti kampanye beberapa tahun lalu: ”Jangan Bugil di Depan Kamera!” Sebab, kita bukan belalang atau kuda, dan kita (masih) di Indonesia. Kita juga bukan Rocco Siffredi atau Asia Carrera atau Maria Ozawa yang mantap bilang, ”I’m a pornstar.” Lha wong untuk menyebut para pelaku dalam video yang mengenyakkan pekan lalu saja, kita masih ”bersopan-sopan” menyebutnya mirip Ariel, mirip Luna, mirip Cut Tari.

***

INGATAN mencemaskan kedua tertuju pada Bunga dan Dara, dua anak saya yang masih SD. Setiap ada berita persebaran video mesum, dari ponsel ke ponsel, atau di internet, kecemasan itu muncul. ”Jangan-jangan di ponsel mereka ada video seperti itu, dan mereka telah menontonnya secara sembunyi-sembunyi. Jangan-jangan adegan-adegannya membayangi mereka menjelang tidur atau bahkan ketika sedang belajar. Jangan-jangan…”

Maklumlah, informasi adanya video mesum mengalir deras dari banyak sumber: TV, koran, dan internet yang kini bahkan bisa diakses lewat ponsel Rp 500 ribuan. Padahal, hanya lewat ”udara” dengan bluetooth pada ponsel, video itu bisa cepat berpindah-pindah. Ya, semacam virus influenza, dan meski berkesan memaksa, boleh dong saya menyebutnya videomesumfluenza.

Influenza bikin demam dan meriang. Video mesum pun bikin blingsatan ”pelaku”-nya yang merasa tertempelak aib, kecuali kalau si pelaku memang ekshibisionis. Istilah itu juga tak berlaku untuk yang doyan menonton kemesuman. Video seperti itu malah mirip zat taurin pemacu detak jantung. Tapi yakinlah, untuk anak-anak, video mesum hanya bikin ”influenza” secara psikologis.

Nah, bagaimana bila virus videomesumfluenza sudah menjangkiti anak-anak kita? Sebagai orang tua, kita bisa saja bertindak bak petugas pabean atau penjinak bom. Kita periksa isi ponsel dan komputer anak kita, dan bersyukur kalau tak menemukan virus itu. Tapi itu juga bukan jaminan. Di luar pengawasan kita, tetap ada kesempatan anak kita cekikikan atau terlongong-longong menonton kemesuman, lewat ponsel milik sang teman atau komputer di kabin warnet.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Memasung anak kita? Wah, wah, ini seperti menangkap seekor tikus dengan membakar lumbung, dan lebih sial lagi ternyata kita semua ada di dalamnya. Atau kita sita saja ponsel dan komputer anak kita? Ini juga bukan penyelesaian yang cergas.

Saya bukan pakar pedagogis anak yang bisa memberi solusi bagi anak penderita videomesumfluenza. Tapi bagaimana kalau begini: ajak anak kita jalan-jalan sambil menenteng kamera atau ponsel berkamera, misalnya ke kebun binatang; sembari berpiknik, semangati anak kita merekam aktivitas binatang di sana; syukur ada yang lucu atau mengharu-biru, lalu kirim kreasi anak kita ke stasiun televisi yang memberi tempat untuk citizen journalism. Syukurlah kalau ditayangkan. Kita bangga dan anak kita boleh bermimpi menjadi sutradara Hollywood. Bravo! (*)

(epilude,  SuaraMerdeka, 13 Juni 2010)


1 Comment

  1. zlatan says:

    nasehat yang bagus buat para orang tua…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: