Home » Kolom Lain-lain » VIRUS ITU BERNAMA INULFLUENZA

VIRUS ITU BERNAMA INULFLUENZA

SEPERTI kilasan meteor, tiba-tiba perempuan bernama Inul Daratista itu menjadi bintang. Sebagai bintang, dia ditempatkan pada pusat dua tarikan garis yang saling berlawanan. Dia dipuja sekaligus dihujat. Dia dijadikan ikon yang melahirkan seabrek epigonis yang kesengsem-kepincut, tapi dia diperlakukan pula sebagai momok yang harus dicekal. Tapi ketika muncul pencekalan buat dirinya, khususnya dari kalangan Kiai Pasuruan, suara yang membela pun tak kalah banyak.

Sudah terlalu banyak media massa, cetak dan tulis, mengulas panjang-lebar kontroversi sosok wanita Pasuruan Jatim itu. Tak terpungkiri, media massa pula yang membesarkan dia sekaligus menjadi pemicu kelahiran perlakuan sebaliknya.

Dalam realitas kehidupan masyarakat, sosok Inul menjadi point of view paling signifikan belakangan ini. Sekadar contoh, berjubelnya orang mengerumuni para penjual VCD kaki lima atau counter di mal untuk memperoleh cakram berisi rekaman ”goyang bor” Inul bukanlah isapan jempol belaka. VCD Inul laris bak kacang goreng. Tak cuma itu, obrolan dari yang hanya di warung-warung kopi hingga pertemuan RT/RW, Inul menjadi bahan cerita paling renyah

Pada profesi penghibur serupa Inul, tak terpungkiri gaya tarian mengebor panggung mulai banyak dipakai sebagai cara tampil yang menyedot ketertarikan penonton. Sosok penyanyi dangdut seperti Liza Nathalia yang jauh sebelum Inul muncul dianggap sebagai penyanyi dengan goyangan yang cukup panas, mendadak seperti tertelan. Juga beberapa tahun lalu artis Alda Risma memunculkan gerakan bergoyang bak ”menampi beras” yang cukup sensasional ketika itu, ternyata reaksi yang muncul tak sedahsyat saat Inul tampil.

Tak Hitam-Putih

Perlakuan media massa terhadap Inul ikut pula melahirkan berbagai macam pandangan atau komentar. Sebagian besar kalangan mengungkapkan pernyataan yang tidak mampu meneguhkan penilaian secara hitam-putih. Seolah-olah memperlakukan fenomena Inul haruslah dengan dua muka.

”Seandainya gaya bergoyang Inul lebih sopan sedikit, mungkin lebih baik. Tapi saya juga menolak pencekalan buat dia,” kata Elly (20), mahasiswi IKIP PGRI yang mengaku melihat goyang Inul lewat VCD.

Irawati Kusumarasri, seorang penari di Solo, mengungkapkan komentar senada. ”Tak ada yang perlu dipermasalahkan pada Inul. Seorang artis itu butuh berbeda. Inul punya cara tampil berbeda. Memang goyangannya ada yang seronok. Tapi jangan salah, yang jauh lebih seronok dari dia banyak sekali. Maka nggak perlu ada pencekalan buat dia.”

Soal yang lebih seronok memang sudah menjadi rahasia umum. Satu contoh saja, sebuah VCD dangdut yang menampilkan tiga penyanyi perempuan cilik sekitar 10 tahunan. Mereka bernyanyi sembari sesekali melakukan gerakan erotis seperti kayang (setengah mengangkang-Red).

Di luar kedua pendapat tersebut, muncul pula sikap skeptis yang menilai pencekalan hanya akan semakin memoncerkan nama penyanyi dangdut itu. Begitu pula, kalau Inul dianggap momok atau virus, kalangan yang optimistik melihat hal itu hanya semacam lintasan peristiwa belaka.

Karena itu ada juga yang berkomentar, ”Tak ubahnya sebuah berita biasa yang diblow-up sedemikian rupa lalu seperti gelembung sabun. Hilang dengan sendirinya.”

Gampang Dipengaruhi?

Boleh jadi memang bukan semata masalah kontroversi mengenai Inul. Perempuan itu hanyalah satu sosok yang muncul lalu menjadi pusat ketertarikan massal, menimbulkan silang-pendapat, lalu hilang dengan sendiri. Dengan kata lain, bila waktu kemoncerannya telah aus, pasti akan muncul pusat ketertarikan lain. Inul akan hilang bersama waktu dan juga sejarah media yang telah mencatatnya.

Maka muncul pula pertanyaan: begitu gampangnyakah kita dipengaruhi, oleh media massa, misalnya?

Kalau melihat secara sekilas pusat ketertarikan massal dalam satu tahun berselang, khususnya dalam dunia hiburan, memang seolah-olah ada kecenderungan bahwa masyarakat begitu cepat berubah dan terkesan gampang dipengaruhi oleh suatu produk hiburan.

Beberapa hal bisa diambil sebagai contoh. Dalam beberapa waktu, ada pusat ketertarikan kepada Kuch Kuch Hota Hai dan pola perfilman Bollywood. Dunia hiburan seperti televisi lalu menangkapnya sebagai komoditas entertainment yang sangat menjanjikan. Bukankah ketika itu hampir-hampir tak ada stasiun televisi swasta kita yang tak memutar tayangan Bollywood? Dan tak tanggung-tanggung pula, bintang Bollywood seperti Shah Rukh Khan sengaja didatangkan ke Jakarta untuk konser dengan tiket yang sangat mahal.

Lalu muncul pula Meteor Garden dengan F4. Pusat ketertarikan seolah-olah berubah ke situ. Kelompok pemuda ganteng Mandarin itu pun diperlakukan sama, juga dengan konser. Tayangan Mandarin serupa pun menjadi menu spesial televisi swasta.

Tak begitu lama muncul demam ”Asereje” yang selain bisa dinikmati pada hampir semua kafe atau pub, juga pada pasaran VCD kaki lima. Tapi itu tak berlangsung terlalu lama. Begitu muncul informasi bahwa itu lagu pemuja setan, gaungnya mereda.

Kini, Inullah yang menjadi subjek cerita dalam dua peran. Satu sisi, dia menjadi antagonista serupa virus influenza hingga muncul sebutan ”Inulfluenza”. Sisi lainnya bisa jadi dia seorang protagonista yang menghibur, pelaku revolusi goyang, pemilik bahasa tubuh yang langka dipunya orang, bahkan penari sekali pun. Pada peran itu dia juga motivator banyak penghibur untuk bisa ”bergaya Inul”. Dia menjadi semacam suplemen seperti produk hemaviton atau hormoviton. Pada tataran itu, boleh jadi Inul melahirkan ”Inulviton”.

Tapi kalau masyarakat kita memang gampang dipengaruhi media massa serta cenderung sangat cepat berubah haluan pusat pandang, tentu itu bukan perkara yang begitu sepele. Terlalu banyak efek samping yang buruk bila akar persoalannya selalu ditenggelamkan oleh berbagai lintasan peristiwa yang muncul selalu bagai ledakan.

Meski menurut pendapat psikolog Dra Frieda Msi tak perlu ada yang harus dicemaskan dari kecenderungan itu. ”Masyarakat kita itu masih mencari-cari. Belum ada identitas jelas, belum punya pegangan kuat. Memang ada kesan kita gampang dipengaruhi, juga oleh media massa. Tapi itu wajar.” (*)

(Suara Merdeka, 2 Maret 2003)

// <![CDATA[// <![CDATA[
addthis_url=”; addthis_title=”; addthis_pub=’ras’;
// ]]>


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: