Home » Kolom Epilude » S E L I R

S E L I R

KALAU misalnya makan di warung pinggir jalan saja bisa diberitakan, kenapa ciuman seorang artis pada kening artis yang bukan mukhrim tidak menjadi kisah yang besar? Si pencium itu Dewi Perssik dan si tercium Ahmad Dhani, dua nama jaminan untuk kisah heboh dunia hiburan.

Saya menuliskan ”Perssik” dengan dua ”s” karena saya menghormati hak penyanyi bernama asli Dewi Murya Agung itu. Dalam satu wawancara, dia meminta nama belakangnya ditulis dengan dua ”s”, tanpa memberi penjelasan. Ya, mungkin saja biar beda dengan klub sepak bola Persik Kediri atau Persik Kendal. Mungkin juga biar lain dengan buah persik. Padahal, buah yang pernah saya makan di Kunming, China itu rasanya ciamik; campuran rasa mangga, jambu, dan apel yang meski rasanya pasti bukan seperti goyang gergaji, tapi sangat menggoyang lidah.

Biarlah, dia berhak punya nama sesukanya, toh Anda juga boleh memopulerkan diri dengan nama apa saja. Misalnya, Sri Kesemek atau Joko Timun. Agak eksotis, agraris, dan mungkin ndesit , tapi kata Thukul, biar ndesa yang penting rezekinya kota. Hahaha.

Eits, mari kembali ke ciuman saat Dhani merayakan usianya ke-38 itu. Menurut saya sih itu aksi yang tidak heboh. Pasti tak seheboh ciuman Yudas pada Yesus. Apalagi Dhani atau Perssik itu sudah kenyang bikin sensasi. Tapi saya ‘kan tak bisa memaksa Anda untuk menganggapnya hal biasa.

***

BUKAN, bukan ciuman itu yang mengajak saya menulis catatan ini melainkan penyebutan istilah ”selir” dalam tayangan infotainment yang mengabarkan perayaan itu. Benar, saat itu Dhani dikelilingi enam perempuan. Ada Mulan Jameela, Dewi Perssik, Tata dan Puri (Mahadewi), serta Mitha dan Dara (The Virgin). Apa karena itu lalu Dhani dibayangkan mirip seorang raja Jawa yang lagi dihibur para selirnya? Meski dalam KBBI, ”selir” disamakan dengan kata Jawa ”gundik” yang selalu bernuansa negatif, secara kultural, selir adalah perempuan yang dikawini raja tapi tidak dijadikan permaisuri.

Padahal lihat saja, kepala Dhani plontos tanpa mahkota. Saya belum pernah melihat gambar atau menonton tokoh raja dalam ketoprak yang gundul. Belum lagi kalau melihat di bawah dagunya, jenggot yang dikuncir, wah. Yang lebih pasti, belum terdengar berita Dhani mendirikan kerajaan. Badan usaha yang dia dirikan pun bernama Republik Cinta Manajemen dan bukan Kerajaan Cinta Manajemen. Kalau negara, republik dipimpin presiden, dan setahu saya, presiden yang istrinya banyak cuma Soekarno, dan kebetulan tanggal kelahirannya persis hari ini. Tapi yang disebut Ibu Negara ya tetap seorang saja. Dan Soekarno tak pernah disebut punya selir karena dia memang bukan raja.

***

MUNGKIN saja, kemunculan istilah ”selir” itu hanya sebentuk pengiasan, sebuah konotasi, atau hiperbolisme untuk infotainment yang memang demen keserbahiperbolisan. Kalau cuma dibilang, ”Dhani dikelilingi artis-artis binaannya,” mana aspek provokatifnya. Sebab, kayaknya infotainment kurang afdol tanpa bahasa provokatif.

Di luar itu, sebenarnya kita lebih akrab dengan istilah poligami. Apalagi ini dilengkapi dengan ucapan salah seorang yang ikut mengerubungi Dhani.

”Selamat Ulang Tahun, ya Bos tercinta. Mudah-mudahan selalu dalam lindungan Allah, istrinya banyak, selalu sehat, dan istrinya kelak setia dan bukan cinta duitnya saja melainkan cinta seutuhnya,” ujar Dewi Perssik.

Ah, soal poligami ini selalu jadi bahan yang renyah untuk diperbincangkan. Antara yang menerima dan menolak sama-sama punya tabungan kalimat pembenaran. Bahkan, aksi penolakannya bisa menjadi kisah yang tak kalah heboh. Anda sudah tahu, AA Gym ”dijauhi” para perempuan yang sebelumnya sami’na wa atha’na (kami mendengar dan kami menaatinya) pada semua petuahnya. Saya juga sering mendengar orang yang mati-matian tak mau makan di sebuah rumah makan karena pemiliknya berpoligami.

Sayang sekali, saya tak bisa menganalisis panjang-lebar seputar poligami. Sebab, saya belum berpengalaman dalam hal itu. Jangankan berpoligami, lha wong nyanyi lagu ”Madu Tiga” atau ”Bojo Loro” saja sangat pales, kok.

Tapi kalau ada pembaca (yang perempuan tentu saja) menawarkan diri, hmm…sst, jangan bilang-bilang ke istri saya, ya? Walau tampang rada gahar begini, tapi sinetron yang sering saya tonton itu Suami-suami Takut Istri. Hihihi…(*)

(epilude, Suara Merdeka, 6 Juni 2010)


1 Comment

  1. Mas Afi says:

    Mantep bos artikelnya. Jgn bosan dishare d sini ya.thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: