Home » Kolom Bianglala » KACA PEMBESAR

KACA PEMBESAR

JON, ente aja macem-macem garo wong Tegal. Angger dikerasi njadag, tapi dirimuk nglungkruk.” (Jon, kamu jangan macam-macam sama orang Tegal. Kalau dikasari melawan, tapi dibujuk takluk. Tafsir atas kalimat itu bisa berarti sebuah ancaman. Tapi bisa juga itu wujud mekanisme pertahanan diri sebuah komunitas yang bernama Tegal.

Tegal di situ tak semata merujuk wilayah geografis Kabupaten dan Kota Tegal. Ia bisa berarti pula masyarakat yang berbahasa Jawa Tegal sekaligus kebudayaan yang melingkupinya. Maka, sebagian orang Pemalang dan sebagian besar Brebes bisa diikutkan. Kalau ungkapan di atas dianggap menjadi pola-biru sikap orang Tegal dalam berhubungan dengan orang lain, maka sungguh mengherankan ketika mereka distereotipekan sebagai masyarakat medioker yang hanya pantas untuk dilecehkan dalam bahasa lawakan televisi.

Lihat saja, selain dari Warteg yang sebenarnya mirip dengan pola waralaba, kita mengenal mereka lewat banyolan Parto Tegal atau Cici Tegal, atau Samson yang bertubuh besar tapi selalu dikalahkan oleh Tuyul Ucil yang bertubuh kecil, atau ke belakang lagi lewat pelawak Kholik. Potret orang Tegal dalam bingkai bahasanya seolah-olah memang hanya pantas untuk membuat orang tertawa. Potret orang yang ketika bicara hanya jadi ”bulan-bulanan” lawan bicara.

Dengan orang semacam itu, mengapa kita tak boleh macam-macam? Apa pasal? Ungkapan di atas bukannya ahistoris dan niracuan. Banteng Loreng Binoncengan yang menjadi simbol orang Tegal boleh jadi memang bukan gambar mati. Seorang anak kecil yang terkesan lugu menunggangi seekor banteng besar tentu saja tak diciptakan sebagai simbol tanpa kandungan makna.

Boleh jadi orang Tegal itu selugu anak kecil itu, tentu saja dengan atribut lainnya seperti kelugasan dan kebersahajaan. Tapi bukankah si kecil itu penakluk? Bukankah para pewarteg mampu menaklukkan ”pasar besar” Jakarta lewat dandang nasinya?

Dengan gambaran serupa itu, saya jadi paham arti kegundahan orang Tegal seperti Nurngudiono ketika bahasa ibunya hanya dikenal sebagai bahasa lawakan. Ketika orang Tegal hanya dimaknai sebagai orang yang menarik sebagai sasaran kekonyolan. Sampai-sampai dia melontarkan pertanyaan retoris, ”Apakah bahasa Tegal tak memiliki bahasa puisi?” Tentu saja punya.

Saya ingat sebuah nyanyian ketika kanak-kanak pada saat turun hujan. Begini, ”Tauge-tauge udane sing gedhe, taurang-taurang udane sing terang”. Sebuah kalimat puitis yang bahkan bisa berdaya mantra. Bahkan untuk keperluan pola persajakan, orang yang entah menciptakan nyanyian itu membuat kata baru (neologisme) ”taurang” demi bersajak dengan kata ”terang”. Dan kata itu, mungkin hingga hari ini, tak pernah ditemukan maknanya.

Nurngudiono pun pasti ingat, beberapa tahun lalu Lanang Setiawan mencuatkan puisi Tegalan dengan sangat jumawa. Saya pun sangat yakin orang-orang seperti Nur Hidayat Poso, Yono Daryono, Lutfi AN, Suriali, Abidin Abror, Enthieh Mudzakir, Ki Enthus, Atmo Tan Sidik, Eko Tunas, banyak lagi lainnya yang saya kenal begitu bangga dengan identitas daerahnya tak pernah merasa diri mereka medioker sebagai orang Tegal. Sebutan ”Jon” untuk saling memanggil sesama kawan misalnya, di luar alasan uniformitas dan kesetaraan, adalah juga perujuk kebanggaan identitas. Sebutan yang lalu membuat kawan dari luar Tegal terheran-heran mendengar setiap orang memiliki nama ”Jon”.

Nah, itulah persoalannya. Keterheran-heranan itu kalau diperbesar lagi menciptakan stereotivikasi tertentu yang acap bernada minor. Pada tataran itu, parameter yang selalu dipakai adalah ”kita” bukan ”mereka”. Sialnya, kita acap melakukan itu. Ibaratnya, kita melihat wajah orang lain dengan kaca pembesar. Secantik dan setampan dewa-dewi, wajah orang yang dilihat dengan kaca pembesar pastilah buruk muka.

(bianglala, Suara Merdeka 11 April 2004)


1 Comment

  1. gajah dipeluk tak sampai kuman jauh pastilah tak nampak, salam kenal mas Roni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: