Home » Kolom Latar » BERSEDEKAH SAJA KOK REPOT

BERSEDEKAH SAJA KOK REPOT

SEPERTI tak pernah ada yang berubah dalam dirinya. Berbaju koko, celana gombrang, dan peci hitam, dan selalu tak sepatah kata pun terucap dari bibirnya. Setiap kali naik bus, lewat pintu belakang atau depan, dia segera berdiri di samping kursi sopir, membuka tas, dan meraup tumpukan kertas putih sebelum selembar demi selembar dia bagi ke semua penumpang. Isinya rencana pendirian LSM, permintaan sedekah, dan tiga hadits anjuran ber-shodaqoh.
Puluhan kali aku menerima lembaran itu sejak lebih dari setahun lalu. Mungkin cuma dua kali menyelipkan lembaran ribuan tanpa pernah merasa telah bersedekah. Dan setiap melihat lelaki berwajah tampan tapi dingin itu, aku digoda oleh kecamuk persangkaan.
Kadang aku berusaha khusnudzon: LSM-nya memang butuh uang banyak untuk berdiri hingga lebih dari setahun dia harus naik turun bus setiap hari, mengais derma. Kadang su’udzon yang muncul, dan itu paling sering: jangan-jangan LSM itu cuma trik cari uang dengan cuma kerja naik turun bus membagi-bagi selebaran. Sering aku jengah sendiri dan mengeluh pada Tuhan bahwa betapa susahnya untuk ikhlas, mengikhlaskan apa saja yang dia lakukan tanpa berprasangka. Kalau ingin memberi, ya sudah beri saja. Kalau tidak, ya cukup kembalikan selebaran itu, syukur dengan senyuman meski lelaki itu tak sekali pun kulihat pernah tersenyum.
Aku mungkin bukan Fandi dalam film Kiamat Sudah Dekat yang setelah mati-matian berupaya berhasil ikhlas sesuai anjuran Haji Romli. Setiap melihat lelaki itu mulai beraksi, aku selalu teringat orang-orang yang berkeliling menenteng kotak amal dan sebuah map berisi surat keterangan rencana pendirian masjid, mushala, atau yayasan anak yatim piatu.
Pun muncul di benak gambaran sepuluh tahun lalu tentang gadis-gadis muda yang tidur berdesakan mirip ikan panggang dalam sebuah bedeng sempit di Bekasi. Waktu itu, aku jadi seorang wartawan sebuah tabloid politik di Jakarta dan redaksi menugaskanku menulis kisah humaniora tentang para pembawa kotak amal di bus-bus kota. Ya, susah payah mereka mengais derma dari penumpang bus, sementara para bosnya mengawasi mereka dari dalam mobil bagus. Bila senja tiba, mereka pulang ke bedeng-bedeng sempit, sementara para bos itu pulang ke rumah mereka yang konon ada beberapa. Seorang koordinator, ketika kutemui, dengan enteng bilang, ”Gue kasih mereka kerja. Dalam krisis gini, upaya gue ini mulia, kan?”
Benar, saat itu booming korban PHK akibat banyak perusahaan pailit dihajar krisis moneter. Memberi pekerjaan orang lain itu sungguh semulia-mulianya perbuatan. Tapi, ”Kagak penting masjid atau yayasan itu ada atau kagak. Lagian, orang kita kan gampang kasihan dan suka ngamal,” ujar laki-laki itu lagi sambil ngakak.
Apakah karena itu, juga yang berkali-kali kujumpai di sepanjang jalan pantura, membuat hatiku tak pernah bisa ikhlas, baik ketika memberi atau tidak? Belasan tahun lalu, aku berusaha secara ekstrem mempraktikkan ajaran para kiai untuk ikhlas beramal. Suatu petang, seorang gadis muda mendekatiku dan dengan malu-malu mengatakan dirinya kehabisan uang untuk naik angkota. Dia juga bilang perutnya lapar. Karena lagi ingin mempraktikkan ajaran sang kiai, dan kebetulan di saku celana ada sedikit uang, kuberi dia sejumlah yang mungkin cukup untuk ”keperluannya” itu. Aku berlalu dan berusaha mati-matian tak melihat ke mana perginya si gadis. Itu agar aku terbebas dari keragu-raguan bahwa dirinya tak benar-benar butuh ongkos angkota dan makan. Meski begitu, hati ini tetap tergoda persangkaan-persangkaan. Oh, Gusti, betapa susahnya mengikhlaskan sesuatu yang sudah diberikan ke orang lain.
Seorang kawan spiritualis pernah juga secara ekstrem melakukan ajaran bahwa ”yang diberikan tangan kanan tak harus diketahui tangan kiri”. ”Suatu siang,” dia bercerita, ”seorang perempuan tua meminta sedekah. Pada dua kantung celanaku, tersimpan uang. Tanpa melihat, kurogoh saku kanan, dan mengambil selembar tanpa melihatnya dan memberikan kepadanya. Wuih, ternyata lembaran dua puluh ribuan. Hahaha, menyesal juga, kan di kantong itu ada yang nilainya lebih kecil. Itu bukti, aku belum berhasil untuk ikhlas.”
Banyak sekali kisah seperti itu. Aku yakin, Anda kerap mengalaminya. Apalagi tak cuma di bus kota, laskar pencari derma itu bergerak ke rumah-rumah kita. Sahibul bait yang suka memberi akan jadi idola, dan bisa didatangi berkali-kali dalam seminggu, bahkan oleh orang yang sama. Seorang kawan yang istrinya marah-marah ”direcoki” laskar itu, berusaha bijak berdalih, ”Sudahlah, mereka kan memudahkan kita bersedekah. Jadi, kita tak perlu susah-susah datang ke baitul mal atau masjid. Cukup di rumah, kita bisa beramal, bukan?”
”Ikhlas sih ikhlas kalau dipakai bikin masjid atau mushala. Masak jauh-jauh dari Madura, Jombang, Ponorogo, dan entah dari mana lagi itu, cari sedekahnya di Semarang? Apa di sana tak ada dermawan?”
Dengan tertawa, kawan itu lirih berujar, ”Yang dari sini bisa saja carinya di sana. Tak perlu repot-repot datang jauh-jauh untuk membuktikannya, kan? Ikhlaskan saja, kenapa sih?”
Dan setiap melihat lelaki bermuka dingin di bus itu, aku tahu nasehat kawan itu mudah diucapkan, tapi tetap sulit diwujudkan. Memang ada juga para pembawa kotak amal yang jadi duta sejati untuk masjid atau mushala yang sedang dibangun. Tapi tetap saja, “tangan kiri”-ku selalu ingin tahu apa yang dilakukan “tangan kanan”-ku. (*)

(latar, Suara Merdeka, 31 Mei 2009)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: