Home » Kolom Sinefleksi » P E R S A H A B A T A N

P E R S A H A B A T A N

BAGAIMANA memperlakukan seorang sahabat, belajarlah pada Billy The Kid (Emilio Estevez) atau pada Pat Garrett (William Petersen)! Pada awalnya mereka bersahabat sebagai “orang-orang brengsek”, sebutan penduduk untuk keduanya yang hidup dari merampas ternak orang usai Perang Lincoln, sebuah perang dagang antara Irlandia dan Inggris. Mereka masih juga bersahabat saat sama-sama menjadi buronan Gubernur New Mexico dan harus berkembara di padang-padang rumput dan bebukitan terjal.
Tapi lalu pilihan hidup harus berubah. Keduanya berpisah. Billy The Kid yang bernama asli William H Bonney itu tetap melanjutkan garis hidupnya sebagai “momok” paling mengerikan bagi pemilik ternak di daerah itu dengan seabrek sebutan seperti Henry McCarty atau William Antrim.
Penonton pun bisa jadi tertipu pada adegan menjelang akhir film Young Gun II garapan Geoff Murphy itu. Untungnya, film dibuka dan ditutup dengan sosok tua yang mengaku bernama Brushly Bill Roberts -tapi mengaku sebagai Billy The Kid pada seorang pengacara bernama Charles Phalen. Sosok tua itu meminta sang pengacara agar menolongnya memintakan pengampunan pada Gubernur, setelah menanti selama
70 tahun 3 bulan.
Film dengan alur flashback itu berakhir tanpa menjawab pertanyaan, apakah sosok tua itu benar-benar “Sang Pangeran Pistol” yang ditakuti sekaligus dikagumi di Lincoln County.
Persoalan persahabatan memang menjadi pusat tematik cerita lewat dua tokohnya. Sosok Billy si “brengsek” itu teruji sebagai seorang yang menjadikan sahabat sebagai sesuatu yang mulia. Itu sebabnya dia tak mungkin menyerahkan Chavez pada penduduk yang menginginkan tubuh peranakan Mexico-Indian itu. Dia juga begitu sedih ketika menyaksikan satu per satu sahabatnya mati (terkecuali Henry French) oleh peluru Pat Garret.
Betapa pentingnya makna persahabatan bagi dia! Bahkan, terhadap Pat Garret yang telah membunuh semua sahabat dan menghargai dirinya sebesar 1.000 dollar itu pun Billy tetap menganggapnya sebagai seorang sahabat.
Dengarlah kalimat Billy ketika moncong pistol Pat terarah tepat ke dahinya: “Aku selalu bilang, jika aku peduli pada seseorang, maka tak akan ada yang gagal. Aku bahkan akan mempermudahnya.”
Atau, dengarlah bisikan lirih sosok tua yang mengaku sebagai Billy kepada sang pengacara usai adegan di atas: “Aku sayang dia (Pat maksudnya).”
Begitu juga Pat Garret. Di balik nafsu pribadinya, persahabatan ternyata mengajarinya untuk tidak mampu meledakkan kepala Billy. Dan belajar dari Young Gun II, makna persahabatan memang butuh diuji dalam situasi penuh tekanan. Sebab, pada saat seperti itu, adakalanya kepentingan diri sendiri lebih banyak dimenangkan meskipun harus memakai cara menyerahkan “kepala” sang sahabat.(*)

(sinefleksi, Suara Merdeka, 15 Februari 2003)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: