Home » Kolom Epilude » D U E T D U I T

D U E T D U I T

SAYA suka melihat kemesraan sepasang orang. Itu kalau salah seorang dari keduanya bukan pacar atau pasangan hidup saya. Maka saya jadi suka melihat Anang tampak mesra dengan Syahrini. Itu karena saya bukan gay dan Anang bukan pacar saya. Syahrini juga bukan pacar atau istri saya. Dengan alasan serupa, saya juga suka melihat kemesraan Yuni Shara dan Raffi Ahmad, juga dulu saat Brad Pitt unjuk kemesraan dengan Angelina Jolie.
Tak perlu saya berdengki atau mencemburui mereka. Apalagi selain dari TV dan kisah yang didedah media massa lainnya, saya tak pernah mengenal mereka. Syahrini, yang namanya hanya beda satu vokal dengan nama depan saya ketika teman atau kolega salah menulis ejaan menjadi ”Syahroni”, juga tidak saya kenal. Mendengki dan mencemburui orang yang tidak dikenal itu ibarat memanah awan. Apalagi saya tak mau kena penyakit hati berupa dengki yang dilarang ajaran agama.
Karena tak kenal secara personal, saya tak ingin ikut-ikutan mempertanyakan kemesraan mereka itu asli atau hanya slapstick pendongkrak popularitas. Saya juga tak memilih jadi bagian kelompok yang bilang, ”Wah, Anang dan Syahrini itu sudah kayak mimi-mintuna. Awas, kalau nggak jadi pacaran, kudemo nanti!” Pun saya tak mau jadi sekutu orang yang ngomong, ”Ah, itu kan cuma trik Anang biar moncer lagi. Ini semata trik dunia showbiz.”

***

JADI, saya memilih menonton semua tayangan kemesraan mereka itu tanpa kerenyit kening atau debur jantung kepenasaran. Pun saat lagu ”Jangan Memilih Aku” mereka laris manis. Juga saat Anang dan Syahrini laris jadi bintang iklan. Hmm, duet mesra itu berubah jadi duit yang mirasa, entah kemesraan itu semurni emas 24 karat atau cuma slapstick dunia showbiz. Kalau pun asli, toh keduanya punya hak untuk berpacaran atau menikah nantinya. Kalau cuma slapstick, itu juga kan ikhtiar mereka sebagai selebriti. Apanya yang salah?
Tak ada salahnya pula ketika Yuni Shara menggandeng pacarnya Raffi Ahmad untuk berduet mendendangkan ”50 Tahun Lagi”. Boleh saja orang bilang bahwa Raffi itu bukan penyanyi karena selama ini dia tak pernah menjadi selebritis lewat lantunan lagu. Tapi siapa tahu Yuni paham benar bahwa Raffi itu punya bakat nyanyi yang selama ini terpendam di kerak bumi.
Dan kalau ada yang bilang Yuni-Raffi itu mengekor kesuksesan Anang-Syahrini lewat lagu berbumbu adegan kemesraan, apa salahnya juga? Mengekor sesuatu yang punya daya jual, sesuatu yang jadi duit, dan bukan plagiasi, yakinlah, tak ada hukum yang melarangnya. Kalau orang suka lagunya, bolehlah kemesraan itu sebagai bonusnya. Atau dibalik: kalau orang suka melihat kemesraan seperti saya, boleh dong lagunya sebagai bonus asal beli yang orisinal dan bukan bajakan.
Itu juga berlaku untuk Tata ”Mahadewi” yang duet bareng pacarnya Irfan, vokalis band Tiramisu. Pada kedua pasangan ini, orang memang tak mempertanyakan kapabilitas mereka mendendangkan ”Tak Ingin Mati”. Maklum, keduanya penyanyi. Tapi tetap saja, mereka dibilang pengekor Anang-Syahrini. Dalam hal ini, betapa hebatnya pasangan duda dan gadis itu karena mereka dijadikan pioner.

***

LALU apanya yang perlu diramaikan? Orang yang ”sejenis” dengan saya memang tak mau meramaikannya. Tapi infotainment itu kan punya gen yang berbeda. Bakatnya kan membuat sesuatu yang biasa menjadi luar biasa, dan yang luar biasa menjadi sangat luar biasa. Kalau tidak seperti itu, mana mau orang menonton. Kalau tak ada yang mau menonton, mana mau para pengiklan antre minta tempat. Kalau tidak ada pengiklan, mau dapat duit dari mana para stasiun TV itu? Kalau stasiun TV tak punya duit, hmm… Anda tahu kelanjutannya.
Hanya saja, kalau lagi iseng, saya suka menghitung begini: siapa yang kira-kira diuntungkan dari pasangan ”duet duit” itu. Katanya, duet itu harus simbiosis mutualitistis, harus saling menguntungkan. Siapa ya, Anang atau Syahrini, Yuni atau Raffi, Tata atau Irfan? Saya yakin Anda akan baku debat dengan dahsyat, se-”Dahsyat” acara televisi yang sering mereka pakai untuk unjuk kemesraan. Silakan saja, asal tidak baku pukul, baku tinju, apalagi baku bunuh. Sebab, seperti saya, Anda pasti lebih suka menonton adegan kemesraan ketimbang kekerasan.
Tapi Anda pasti satu suara untuk pertanyaan ini: kalau saya berduet dengan Beyonce, Shakira atau Rihanna, siapa yang diuntungkan? Kalau menurut saya sih, mereka yang diuntungkan… tapi saya menghormati Anda untuk berbeda pendapat. Hahaha… (*)

(epilude, Suara Merdeka, 30 Mei 2010)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Pemungut Kata dari Udara

Tuit-Tuit

  • #Cerita196:CINTA-32. Manon pulang, Eva lelap. Angin santer lewat jendela. Manon merapatkan selimut dan cium keningnya, dan menutup jendela.i 1 year ago
  • #Cerita195:GENDUT. "Rekening Arya tambah gendut. Kau juga, perutmu! Meski begitu, buatku kau tetap six-pack," ujar Eva. Manon hanya ngakak. 1 year ago
  • #Cerita194:PIKIRAN. Di dalam pikiran Manon, Eva itu Putri jelita. Bahkan wajah kusut Eva seusai bangun tidur tampak begitu menawan. 1 year ago
  • #Cerita193:GERIMIS. Manon senang senang duduk di balkon saat gerimis belum menjadi hujan. Eva tak pernah alpa menyeduhkan teh untuknya. 1 year ago
  • #Cerita192:PANIK. Ada berita pesawat jatuh. Eva panik dan menelepon Manon. "Kamu tidak di pesawat, kan?" "Aku di kamar, sayang." 1 year ago

Pilih-Pilih

%d bloggers like this: